Teori Negara Paska-Kolonial

Teori Negara Paska-Kolonial

Apa saja teori negara paska-kolonial?

Impase Politik Mesir: Kritik atas Pandangan Coen Husain Pontoh

Impase Politik Mesir: Kritik atas Pandangan Coen Husain Pontoh

Sementara tokoh Kiri semacam Coen (yang melanjutkan studi ke City University of New York pasca bubarnya PRD) berlindung di balik tesis Rosa Luxemburg atau Leon Trotsky, tapi kehilangan elan revolusionernya.

SASTRA JEMPOL

Dalam perkembangannya, sastra jempol cenderung menyebabkan penulis sastra menjadi narsis. Jempol membikinnya merasa telah melahirkan karya yang sangat istimewa. Padahal, sebetulnya dirinya telah dikelabui oleh sifat megalomania yang lahir dari jempol-jempol kawanannya.

BAHASA MASKULIN DALAM SASTRA

Selain dari penggambaran sosok perempuan, bahasa maskulin juga bisa dikenali lewat pilihan diksi pengarang laki-laki saat menggambarkan kelaminnya. Dalam dunia patriarkal, kelamin laki-laki memiliki posisi sentral sebagai simbol kejantanan untuk mendominasi perempuan. Tak heran, alat kelamin kerap digambarkan sebagai sesuatu yang mampu menguasai, mengalahkan atau setidaknya menjinakkan lawan. Penggambaran semacam ini dengan mudah dijumpai dalam buku kumpulan puisi Nirwan Dewanto berjudul Buli-Buli Lima Kaki (2010).

HAJAR TERUS, HTI!

Ada pertanyaan mudah, kalian membenci HTI? Muak dengan kampanye ‘Kafir’ atau ‘Anti Demokrasi’-nya? Dengarkan! Kebencian kalian tak akan membantu dan berguna sama sekali, sampai kalian mampu mengorganisasikan kekuatan sepadan atau melampaui mereka. Tapi rasanya kalian memang cukup puas ditakdirkan menjadi zombie-zombie internet belaka!

AWKARIN DAN SASTRA KITA

Filsuf Prancis, Albert Camus, menulis buku berjudul Mite Sisifus. Si tokoh, Sisifus, bisa dipandang sebagai alegori ironi kehidupan manusia urban produk kapitalisme. Buku tersebut dihadirkan Camus untuk menjawab satu pertanyaan sederhana yang penting untuk kita pikirkan. “Apakah Sisifus [kini bisa bernama Awkarin, Nayla, Lalita atau yang lainnya] bahagia?

GEGAR PENGHARGAAN SASTRA INTERNASIONAL

Seorang penulis dari negara bekas jajahan seperti Indonesia akan sangat bangga bila karyanya telah dicap sejajar dengan karya Victor Hugo, Leo Tolstoi, atau James Joyce. Padahal, sebetulnya dia sedang direndahkan. Kenyataan ini serupa kaos buatan Cikarang yang perlu dilabeli sebagai produk Amerika agar terkesan barang kelas satu dan bisa laku di pasar internasional (Barat)

MOJOK.CO Yang Baper

Pengkritik mengira Mojok belahan jiwa dari gerakan. Sebagai ‘comrades in arms’, mereka merasa wajib melancarkan kritik keras. Selayaknya ceplesan raket tenis ke pantat pembelot. Sebaliknya, Mojok merasa dirinya bukan sekedar bisnis belaka. Membalas pukulan raket dengan remasan ke buah zakar pengkritiknya. Saudara mesti ingat Mojok ini bisnis. Sama ketika Puthut garang membela petani tembakau, dia sedang berbisnis dengan perusahan rokok terbesar di negeri ini (yang pemiliknya manusia terkaya di Nusantara ini). Jadi sah-sah Mojok menerima sponsor dari mana saja, tak akan membatalkan puasa. Ini bisnis media, Bung. Mojok bukan Iskra yang harus menyuarakan persoalan kaum proletar.

13177136_10201908678156803_4695096859881053538_n

SASTRAWAN SOSIALITA

Sekarang, ketika para sastrawan sosialita berkumpul dalam acara yang berlabel internasional maka apa yang mereka hasilkan tiada lain hanyalah manifesto foto unjuk diri di media sosial dengan wajah sumringah karena merasa telah menjadi bagian dari penulis dunia (Barat).

Mencari Marxisme Yang Wangun

Sebetulnya logika Marxis hanya sederhana, terdiri dari tiga hukum: kontradiksi, negasi dari negasi, dan perubahan kuantitas menjadi kualitas. Tapi ditangan Martin yang jenius ini, saya tak mengenali logika Marxis yang sederhana itu karena kepandaiannya mengolah tema dengan sangat canggih. Ulasannya begitu penuh dengan metafor-metafor yang elok sehingga membutuhkan suasana yang tenang dengan diiringi musik jazz atau blus, diselingi menyruput wine untuk bisa memasukkan inti sari pemikiran Marin ke relung sanubari yang paling dalam; jangan dibaca sambil mendengarkan dangdut koplo dan menenggak minuman oplosan karena akan menambah puyeng.

Ahok dan Fundamentalisme Kristen

Dengan cara-cara begitu, gue yakin bisa ngalahin Ahok. Kalau pakai cara grusa-grusu, malah bisa jadi bumerang. Kalau perlu Ahok dipangku saja biar bisa duduk enak, kagak perlu disambitin batu.

Antara Belanda, Tuan Tanah Cina Dan Si Pitung

Ada Presiden tapi lebih mirip Gubernur Jenderal Belande, kebijakannye selalu ngerugiin rakyat jelata terutama rakyat jelata di Betawi. Buat ngejaga penjajahannye di Tanah Betawi Gubernur Jenderal juga melihara tuan tanah baik pribumi maupun Cina. Bahkan tanah Betawi kedapetan lagi tuan tanah Cina yang keblinger dan jadi antek antek Gubernur Jenderal, bengisnye sama kayak waktu jaman Pitung masih idup yaitu tukang rampas tanah rakyat miskin dengan alesan itu tanah adalah tanah kekuasaannye (baca : Tanah Negara).
Kalau jaman Pitung itu tuan tanah Cina melihara centeng-centeng buat mukulin rakyat miskin yang diambil tanah ape ternaknye. Jaman sekarang juragan Cina antek antek Gubernur Jenderal yang keblinger dan bengis itu juga naroh centeng centeng dalam bentuk lain yaitu pasukan bersenjata yang siap mukul rakyat miskin di betawi yang nolak tanahnye dirampas (baca : digusur).

12345Next ›Last »

Switch to our mobile site